rel='shortcut icon'/>

Rabu, 01 Oktober 2014

Membuka Hati Untuk Lebih Peduli



* Siti Rahmah
Alumnus Prodi Psikologi
Universitas Syiah Kuala dan Pendidikan Sultan Idris Universiti



Bagi saya, mengabdi dan peduli adalah dua pantulan yang saling berhadapan. Keduanya saling mengait. Keduanya juga saling dibutuhkan bagi mereka memerlukan. Saya memahami, kehidupan ini bukan sebatas berdiri di bayangan sendiri dan menutup pagar pada kepentingan orang lain. Ada panggilan hati yang mengajarkan pada berbagi. Dan itu saya temui pada mereka-mereka yang membuka pintu hati lebih luas untuk saling peduli.
Saya menemui Ahmed, lelaki Sudan, saat kuliah di Malaysia. Lelaki Sudan itu sedang melanjutkan pendidikan masternya. Namun ketika ia melihat banyaknya anak-anak TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang tidak memiliki pendidikan yang cukup baik di Malaysia, Ia bersama rekannya membuat kegiatan reguler untuk memberikan edukasi kepada anak-anak yang notabene bukan bagian dari negaranya.


Sama halnya dengan Ahmed, kakak saya pernah beberapa kali mengikuti kegiatan sosial di pelosok Aceh. Dia bercerita kepada saya sambil menangis, bahwa betapa sayangnya anak-anak di daerah pedalaman Meulaboh tersebut.
Mereka di sana tidak ada sekolah. Jadi ketika mereka mau sekolah harus menyebrangi sungai yang kalau musim hujan tiba, sungai itu bisa meluap dan mencapai batas dada orang dewasa. Kalaupun ada guru, belum tentu sebulan sekali para guru itu datang. Tapi anak-anak itu begitu semangat untuk belajar, bahkan ketika kami pulang mereka bertanya; kapan kembali lagi kemari, kakak?” ceritanya.
Ketika saya mendapatkan kesempatan berkuliah di Malaysia, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil intership di salah satu rumah sakit swasta di Malaysia. Jaraknya jauh, berkisar 2-3 jam perjalanan antara Perak dan Bangi. Namun kelelahan ini mengajarkan saya akan banyak hal.

Fatimah, Gadis Kecil Ummi
Fatimah berjalan perlahan mengikuti langkah kedua orang tuanya. Abinya sesekali memberikan minum pada Fatimah. Ketika namanya dipanggil, iapun perlahan masuk ke dalam ruangan psikolog yang biasa menanganinya.
Bocah kecil 5 tahun itu seharusnya sudah bisa berbicara dan bersekolah TK layaknya anak seumurannya. Ternyata Fatimah didiagnosa Global Development Delay (GDD). Gangguan ini ditandai dengan keterlambatan perkembangan yang signifikan pada satu atau dua domain, yang dapat berupa keterampilan motorik, kognitif, atau sosial emosi. Perilakunya belum terlihat berkembang nyata. Ia selayaknya anak-anak berusia 2 tahun. Di ruang psikolog, sesekali ia menangis meminta kentang goreng. Matanya berkedip-kedip ketika saya menyanggupi permintaannya. Senyumnya melebar saat saya mengajaknya bermain. Sesekali diiring tawa diselanya.
Pasangan suami-istri berusia 40-an tahun itu tidak mengeluh tentang kondisi Fatimah. Mereka jauh lebih bersyukur sebab di usia tak lagi muda, Tuhan masih menganugerahi seorang anak yang kehadirannya telah ditunggu sekian lama.
Setelah didiagnosa, Fatimah akhirnya harus menjalani beberapa terapi di rumah sakit. Di waktu selanjutnya bocah ini akhirnya harus menjalani speech therapy, yaitu terapi  yang berfungsi meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan juga occupational therapy, sebagai terapi yang memningkatkan kemampuan dalam kemampuan mengatur diri.kedua-dua terapi tersebut diperlukan untuk membantu  mengurangi Global Development Delay (GDD) yang dihadapinya.

Shamir dan Dineswaran
Selama saya di sana, saya juga pernah bertemu dengan anak lelaki kecil bernama Shamir. Ia menderita autis yang menyebabkan ia tidak bisa berkomunikasi dengan orang orang lain, bahkan untuk sekedar melakukan kegiatan sehari-hari saja sulit. Pergerakkannya yang tidak teratur kadang-kadang membuat sesi terapi jauh lebih sulit dari biasanya. Selama masa terapi Shamir sesekali memanjat-manjat kursi, meja bahkan terkadang menjerit-jerit tanpa sebab.
Kondisi Shamir yang seperti itu, mulai tampak ketika usia 3 tahun. Awalnya ibunya mengaku Shamir memiliki perkembangan normal. Namun, Shamir perlahan-lahan mengalami perubahan. Ibunya mengatakan bahwa sang ayah sering sekali mengancam dan memukuli Shamir jika Shamir tidak menuruti kata-kata ayahnya.
Wanita yang berdarah India-Cina tersebut, mengaku juga sering mengalami hal kekerasan dulunya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bercerai dan menjaga kedua anak laki-lakinya sendirian.
Lain halnya dengan Shamir, Dineswaran, adiknya mengalami ADHD (Attention-Deficit Hyperactive Disorder) atau yang sering dikenal dengan hiperaktif serta menunjukkan perilaku destruktif yang tinggi. Dines sering memecahkan barang-barang yang ada di rumahnya dan selalu saja membawa tombak kayu seperti milik Krisna.
Saya juga teringat pertemuan saya dengan dua orang gadis yang seusia saya. Gadis pertama berasal dari keluarga broken home. Orangtuanya bercerai. Kondisi tersebut membuat dia terlibat dalam obat-obat terlarang, free sex, serta dunia malam. Ia sempat overdosis beberapa kali. Di usia 19 tahun, ia mengandung di luar nikah. Iapun menikah dengan laki-laki yang menghamilinya dan akhirnya bercerai ketika bayi perempuan mereka lahir. Di tahun selanjutnya, psikologpun menyatakan bahwa dia menderita skizofrenia atau yang sering dikenal dengan gangguan jiwa.
Hampir sama dengan gadis yang pertama, gadis kedua memiliki kepribadian yang lebih maskulin dan akhirnya masuk dan tinggal di asrama laki-laki tanpa diketahui oleh orang tuanya.  Bahkan ia tinggal bersama kekasihnya dalam satu rumah. Dia menyukai otomotif lalu bekerja di otomotif.
Ketika saya bertemu dengan gadis itu, dia sedang hamil 7 bulan dan kini telah masuk ke shelter home (rumah tinggal)  sambil menunggu kelahiran sang bayi. Iapun mengaku telah menyesali perbuatannya yang dulu. Namun demikian, setelah beberapa kali sesi, gadis itupun akhirnya didiagnosa menderita bipolar disorder, yaitu salah satu gangguan mood yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan mood secara fluktuatif.
***
Pertemuan saya dengan bocah kecil dan kedua anak laki-laki tersebut mewakili dari banyaknya anak yang pernah saya temui dengan kebutuhan khusus mereka. Mereka memberikan cerita tersendiri untuk saya.  Diantara keterbatasan mereka, mereka tetap bisa menjalani hidupnya dengan baik dan bahagia, bahkan membuat keluarganya jauh lebih bersyukur dengan kehadiran mereka. Bahkan mereka juga bisa menjadi anak-anak berprestasi.
Berbeda lagi ketika saya bertemu dengan orang tua mereka juga membuat saya menyadari bahwa kesabaran yang mereka miliki jauh lebih besar ketimbang yang saya miliki.  Mereka mampu bertahan menghadapi anak-anak yang luar biasa tersebut, menjaga dan mendidik mereka dengan penuh ketulusan, yang mungkin tidak semua orang dapat melakukannya. Tidak hanya itu, kondisi kedua gadis tersebut juga membuat saya lebih banyak belajar tentang bagaimana kita dapat mengisi waktu usia muda dengan hal-hal yang positif dan tidak melibatkan diri dengan hal yang merugikan.
Tidak banyak yang dapat saya bantu dari kedua gadis tersebut, terlebih status saya hanya masih sebagai mahasiswa sarjana psikologi. Hanya saja, pertemuan saya dengan keduanya membuat kami memiliki hubungan yang baik. Terkadang saya memberikan saran dan simpati kepada mereka ketika mereka menunggu giliran untuk bertemu psikolog atau semangat untuk mereka bisa kembali menjalani kehidupannya kembali.
Ketertarikan saya dalam sosial khususnya anak-anak dan wanita masih tetap saya temukan ketika saya kembali ke Aceh. Jika dulunya di Malaysia saya melakukan intership dengan anak-anak, kini di aceh saya melibatkan diri dengan sebuah NGO lokal yang memberikan perhatian pada anak-anak yatim dan orang miskin. Saya dan beberapa orang teman memcoba untuk membantu anak-anak tersebut dari beberapa hal yang dapat kami lakukan. Setidaknya kami berharap dapat meringankan beban yang mereka hadapi.
Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman pernah membuat kegiatan les gratis, dimana kegiatan ini mengajak anak-anak yang masih sekolah dasar untuk belajar bersama dan gratis. Anak-anak yang ada tersebut tinggal di daerah yang tidak terlalu jauh dari kota Banda Aceh, namun memiliki kondisi pendidikan yang kurang dan tidak setara dengan kebanyakan anak yang tinggal di daerah kota.
Berbagai kondisi yang ada di lingkungan kita, seharusnya membuat kita bisa memberikan kesempatan untuk perduli dan memberi kepada mereka yang membutuhkan. Saya yakin bahwa kesempatan untuk memberi itu ada pada setiap orang. Hanya terkadang ragam alasan yang membuat niat tersebut itu tertahan.
Bagi saya sendiri, perduli dan mengabdi itu bukan hanya kepada orang-orang yang bahasa, kulit dan tempat tinggal yang sama dengan saya. Kita bisa melakukan hal tersebut dimana saja dan kapan saja. Bukankah meringankan penderitaan orang itu menyenangkan?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews