rel='shortcut icon'/>

Selasa, 29 November 2011

Telaah Psikologi Moral- Perilaku Menyontek


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Saat ini, kata menyontek bukanlah hal yang asing lagi dalam kehidupan seorang pelajar dan mahasiswa. Setiap orang tentunya ingin mendapatkan nilai yang baik dalam segala hal, baik dalam hal kehidupan, karir dan pendidikan. Pendidikan adalah salah satu hal yang menjadi tonggak ukur kesuksesan seseorang. Dalam hal ini, setiap pendidikan membutuhkan adanya tindakan evaluasi yang sebelumnya adanya ujian. Ujian adalah salah satu hal yang menjadi keinginan setiap orang untuk berhasil. Sehingga saat ini, menyontek selalu dikaitkan dengan tes atau ujian.
Beberapa orang memandangnya sebagai sesuatu yang wajar dan biasa terjadi, dan sebahagian lainnya menganggap menyontek adalah perilaku yang tak baik dan merupakan hal yang serius. Dunia pendidikan sering sekali mengalami masalah menyontek di kalangan muridnya. Hal ini terjadi dikarenakan oleh orientasi seorang siswa yang hanya mencari nilai yang tinggi sahaja, tanpa menilai kembali tentang kemampuan lainnya yang juga berkait dengan kemampuan anak, seperti psikomotorik dan afektif.


Menyontek (cheating) adalah salah satu fenomena pendidikan yang sering dan bahkan selalu muncul menyertai aktivitas proses belajar mengajar sehari-hari dan dalam proses penilaian. Saat ini, telah banyak tindakan yang dilakukan oleh para guru untuk menghilangkan kebiasaan menyontek yang muncul pada murid, namun demikian belum adanya perubahan dan tindakan secara nyata yang dapat menghilangkan perilaku tersebut. Tindakan seperti penghukuman, skorsing, dan pengurangan/pembatalan nilai untuk siswa yang menyontek tidak muncul di setiap guru yang mengajar di sekolah/instansi lainnya.
Hal lain yang dapat merugikan para murid adalah sistem penilaian guru sangat subyektif, kebanyakan guru menilai jawaban murid tanpa melihat proses bagaimana ia mendapatkan nilai tersebut, sehingga menimbulkan kerugian bagi siwa yang malas maupun yang pintar.
Perilaku menyontek tentunya akan sangat merugikan bagi semua orang. Jika seorang murid dibiasakan untuk menyontek maka hal tersebut akan menjadi sebuah perilaku yang akan terus berulang karena nantinya pelajar tersebut akan tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang tidak jujur dan tidak bertanggung jawab. Hal itu akan memberikan efek yang buruk jika nantinya mereka menjadi orang-orang penting di dalam sebuah pemerintahan. Hasil adalah mereka akan menjadi calon-calon para koruptor dan sebagainya, yang berusaha untuk menghabiskan milik negara.
Oleh sebab itu, perilaku menyontek merupakan kasus perkembangan moral yang harus diperbaiki dalam berbagai kalangan, tidak hanya pada diri seorang siswa namun juga dalam diri setiap individu.

B.   Tujuan
Tujuan penulis dalam menulis mengkat masalah ini antara lain :
a.    Untuk memberikan gambaran realita dari lingkungan kita sendiri yang memiliki permasalahan dalam masalah moral.
b.    Untuk memberitahukan pada khalayak ramai tentang latar belakang perilaku tersebut muncul.
c.    Untuk memberitahukan pada semua orang tentang bagaimana cara menyelesaikan permasalahan tersebut.
d.    Untuk dapat dipergunakan dengan sebaik mungkin.
BAB II
HURAIAN DAN PERBINCANGAN
A.   Pengertian Menyontek
Menyontek atau menjiplak adalah mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Menurut pendapat Bower yang mengatakan cheating adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis.
Selain itu, menurut Deighton (1971), cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tak fair (tak jujur). Tak hanya itu, menyontek dapat pula diartikan sebagai suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai yang terbaik dalam ulangan atau ujian pada setiap mata pelajaran.

B.   Kategori Menyontek
Menyontek sendiri dapat dikategorikan menjadi 2 , yaitu menyontek sendiri dengan cara membuat cacatan-cacatan pribadi dan membuka buku. Sedangkan menyontek bersama dengan orang lain melalui kerjasama yang diutarakan terlebih dahulu.
Menurut Alhadza (2004) dalam makalahnya, yang termasuk dalam kategori menyontek antara lain adalah meniru pekerjaan teman, bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan tes/ujian, membawa catatan pada kertas, pada anggota badan atau pada pakaian masuk ke ruang ujian, menerima dropping jawaban dari pihak luar, mencari bocoran soal, saling tukar-menukar mengerjakan tugas dengan teman, menyuruh atau meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas atau tugas penulisan paper dan take home test.
            Oleh sebab itu, menyontek saat ini merupakan suatu masalah moral dalam dunia pendidikan. Hal ini disebabkan oleh menyontek dapat memberikan bias dalam penilaian yang dilakukan oleh para guru, sehingga penilaian yang ada tidak sesuai dengan kemampuan para siswa yang sesungguhnya.

C.   Dampak Psikologi Perilaku Menyontek
Perilaku menyontek tidak hanya menjadi masalah moral, tetapi juga berdampak secara psikologi yaitu juga dapat mempengaruhi kepercayaan diri pada diri seseorang. Hal ini dikarenakan oleh faktor internal yang ditekan karena pengaruh lingkungan (Rakasiwi, 2007).
Menurut Vegawati, Oki dan Noviani, (2004), Pada saat dorongan tingkah laku mencontek muncul, terjadilah proses atensi, yaitu muncul ketertarikan terhadap dorongan karena adanya harapan mengenai hasil yang akan dicapai jika ia mencontek. Pada proses retensi, faktor-faktor yang memberikan atensi terhadap stimulus perilaku mencontek itu menjadi sebuah informasi baru atau digunakan untuk mengingat kembali pengetahuan maupun pengalaman mengenai perilaku mencontek, baik secara maya (imaginary) maupun nyata (visual).

D.   Telaah Psikologi Perkembangan Moral Tentang Perilaku Menyontek
Perkembangan Moral berbicara adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Santrock, 1995). Setiap anak-anak ketikan dilahirkan tidak memiliki moral (imoral), tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (orang tua, saudara dan teman sebaya), anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.
Banyak teori yang dapat menjelaskan tentang perkembangan moral diantaranya teori psikoanalisa Freud, teori belajar sosial Bandura, teori kognitif Piaget, dan teori Kohlberg.
Dengan demikian, melihat kasus menyontek yang telah dipaparkan maka teori yang saya pilih untuk menjelaskan kasus tersebut adalah Teori kohlberg.
Teori Kohlberg tentang perkembangan moral merupakan perluasan, modifikasi dan redefinisi atas teori Piaget. teori ini menjelaskan bahwa sikap moral bukan hasil dari sosialisasi atau pelajaran yang diperolah dari pengalaman, tetapi tahap perkembangan yang diperoleh dari aktivitas spontan dari anak-anak. Anak-anak memang berkembang melalui interaksi sosial, namun interaksi ini memiliki corak khusus di mana faktor pribadi yaitu aktivitas-aktivitas anak ikut berperan.
Teori Kohlberg dibagi menjadi 3 tahap. Melalui kasus menyontek yang terjadi pada murid, maka tingkat yang paling cocok terdapat di tingkat Prakonvensional Moralitas.
Prakonvensional Moralitas adalah tingkatan level ini mengenal moralitas berdasarkan dampak yang ditimbulkan oleh suatu perbuatan, yaitu menyenangkan (hadiah) atau menyakitkan (hukuman). Serta sesuai dengan tahap orientasi hedonistik-instrumental dimana perbuatan dinilai baik apabila berfungsi sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan atau kepuasan diri.
Melalu penjabaran tersebut, didapatkan bahwa anak yang menyontek dikarenakan ketika ia dahulu kecil dan berada pada tingkat Prakonvensional Moralitas, orang tua tidak terbiasa untuk memberikan aturan yang jelas kepada anak tentang perilaku yang benar lalu mendapatkan hadiah (menyenangkan) dan perilaku yang tidak benar lalu mendapatkan hukuman (menyakitkan), sehingga anak akan terbiasa untuk melakukan perilaku yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak dan kepuasan yang terdapat dalam dirinya sendiri.
Perilaku menyontek yang dilakukan oleh para siswa bertujuan untuk memenuhi keinginan/kebutuhan mereka untuk mendapatkan nilai yang baik/bagus dalam mengikuti pengetesan atau ujian. Oleh sebab itu, munculnya perilaku tersebut memberikan gambaran bahwa seseorang yang melakukan perbuatan menyontek sedang berada dalam tingkat prakonvensional moralitas dan tahap orientasi hedonistik instrumental.
Selain itu, terdapat pula teori belajar sosial, dimana seseorang mengenal tingkah laku moral sebagai respon atas stimulus. Respon tersebut bisa berupa penguatan, penghukuman, dan peniruan yang digunakan untuk menjelaskan perilaku moral anak-anak.
Melalui teori belajar sosial perilaku menyontek merupakan hasil dari pembiasaan yang didapatkan oleh seorang anak murid dari guru, teman dan orang tua mereka. Jika anak terbiasa untuk tidak mendapatkan hukuman jika ia melakukan kesalahan menyontek di dalam kelas atau di lingkungan lainnya, mana anak akan memiliki kebiasaan untuk menyontek secara terus-menerus selama tidak adanya tindakan yang tegas dari guru dan orang-orang terkait.

E.   Penyelesaian Perilaku Menyontek Melalui Teori Psikologi Perkembangan Moral
Menurut teori Kolhberg, terdapat 3 tahap dalam perkembangan moral. Melalui teori tersebut maka kita mendapatkan sebuah penyelesaian untuk tahapan Prakonvensional.
Tahap prakonvensional adalah suatu tahapan dimana anak akan memiliki kepatuahn terhadap orang lain melalui hukuman/ganjaran berupa jika hal yang menyenangkan mendapatkan hadiah dan jika ada hal yang menyakitkan mendapatkan hukuman, serta anak akan melakukan sebuah perilaku berdasarkan tingkat kepuasan yang ia terima.
Oleh sebab itu,  berikut ini adalah beberapa cara untuk menangani masalah tersebut, yaitu dengan memberikan reward dan punishment untuk anak-anak yang menyontek.
Ketika seorang anak melakukan perbuatan yang baik yaitu tak menyontek, maka seorang guru dapat memberikan hadiah kepada anak tersebut, berupa pujian, hadiah kecil, nilai yang bagus dan lain sebagainya. Seorang guru yang memberikan hadiah tersebut akan memberikan kepuasan kepada anak tersebut sehingga anak akan menggulangi perilakunya.
Sedangkan, ketika anak melakukan perbuatan yang tak baik yaitu menyontek, seorang guru dapat memberikan hukuman agar perilakunya tidak lagi terulang. Hukuman tersebut dapat berupa ketidak naikan kelas, kemudian mendapatkan nilai yang tidak baik, dan lain sebagainya. Namun demikian tentunya hukuman yang tidak memberikan efek secara fisik pada seorang anak.
Selain itu, metode pemberian hukuman tidak terlalu banyak memberikan efek pada murid bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa perilaku tidak mengalami perubahan, namun berbanding terbalik dengan perilaku yang diberikan reward hadiah, sehingga anak akan lebih termotivasi dalam menggulangi perilakunya.
Perilaku menyontek dapat pula ditangani dengan cara memberikan metode belajar baru dan pengetesan atau ujian pada siswa dengan cara yang berbeda. Seperti ujian secara lisan, ujian dengan memberikan kesempatan kepada setiap siswa menuliskan apa saja yang ia ketahui, ujian dengan cara membagi-bagi kelas dalam kelompok tertentu dan lain sebagainya. Melalui metode yang berbeda, seorang siswa akan lebih berusaha untuk beradaptasi dengan metode-metode yang baru tersebut dan mengikuti ujian dengan metode yang baru. Selain itu, melalui metode yang berbeda dapat menambah keahlian anak dalam beradaptasi dalam berbagai situasi. Selain itu, memberikan ujian dengna metode time out juga dapat mengurangi perilaku menyontek.
Metode yang lain yang dapat dilakukan dalam mencegah anak dalam menyontek tentunya melalui pendidikan sejak dini, yang diberikan oleh seorang ibu untuk anaknya.  Hal ini yaitu berupa penekanan untuk selalu jujur dalam berbuat dan dalam berbagai situasi dan lain sebagainya.


BAB 3
PERUMUSAN
Saat ini, kata menyontek bukanlah hal yang asing lagi dalam kehidupan seorang pelajar dan mahasiswa. Setiap orang tentunya ingin mendapatkan nilai yang baik dalam segala hal, baik dalam hal kehidupan, karir dan pendidikan. Pendidikan adalah salah satu hal yang menjadi tonggak ukur kesuksesan seseorang. Dalam hal ini, setiap pendidikan membutuhkan adanya tindakan evaluasi yang sebelumnya adanya ujian. Ujian adalah salah satu hal yang menjadi keinginan setiap orang untuk berhasil. Sehingga saat ini, menyontek selalu dikaitkan dengan tes atau ujian.
Menyontek atau menjiplak adalah mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Masalah menyontek ini secara psikologi moral dapat dilihat melalui teori Kolhberg. Anak yang masih berada pada situasi menyontek sedang berada pada tahap prakonvensional dimana melakukakan perbuatan berdasarkan hadiah atau hukuman serta kepuasan terhadap dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, hal yang dapat dilakukan untuk menanganinya adalah dengan metode reward dan punishment, menggantikan metode ujian/pengetesan, dan mendidik anak sejak dini agar tetap berperilaku jujur.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Santrock,2006. Adolensence. Jakarta: Erlangga
www.okezone.com
http;//www.depdiknas.go.id/Jurnal
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20080629221807


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Pageviews